Selasa, 04 Desember 2012
“Berpikir” Memandang Wajah Rasulullah
Sabtu, 24 November 2012
Identifikasi Masalah untuk Penelitian Pendidikan
Jumat, 23 November 2012
Opera Sang Powernow
Selasa, 13 November 2012
Cermin Pelangi
Penjawab : Rolina Amriyanti Ferita
(12709251048)
Penanya dan penanggap : Arifin
Riadi (12709251046)
Pertanyaan 1:
Bagaimana anda
memandang diri anda sendiri?
Jawaban 1:
Diri saya relatif
terhadap ruang dan waktu.
Tanggapan 1:
Tentunya semua
orang selalu berada dalam ruang dan waktu.
Senin, 01 Oktober 2012
Perjalanan Pikiran
Fourth Reflection
Senin, 24 September 2012
Kacamata Pikiran
Ya, itulah dunia, itulah segala yang di bumi ini, di alam semesta ini, segala sesuatu yang namanya makhluk, mereka dilihat secara biasa merupakan hal biasa, tetapi setelah menggunakan kacamata pikiran malah jadi rumit dan kompleks. Kenapa? Tentu saja karena kacamata yang dipakai merupakan kacamata terjemah yang bersifat kontradiktif, selalu berkembang, kacamata yang membuat semua benar dan juga semua menjadi relatif, tetapi kacamata ini juga bisa menyesuaikan diri dengan si pemakai, seberapa dalam dia menggunakan kacamata tersebut untuk mengagumi sesuatu hal kecil, sehingga cukup dilihat dari kacamatanya saja kita bisa melihat berbagai jenis orang.
Minggu, 16 September 2012
Hati dan Pikiran
Filsafat bisa didefinisikan apa saja, terserah, yang penting kita bisa menjelaskan kenapa mendefinisikan seperti itu.
Filsafat itu identik dengan bijaksana, kalau ditanyakan apakah filsafat itu bijak, sama saja dengan menanyakan apakah orang itu manusia.
Manusia itu tergoda untuk berlaku sombong, disadari maupun tidak disadari, sombong itu dosa pertama dan dosa yang paling besar, kalau orang mengaku Tuhan jelas dia telah tercampakkan dari hadapan Tuhan, hancur lebur hakikat dirinya, dua kata “aku” dan “Tuhan” itu tidak mungkin sama, tidak mungkin terpikirkan, apalagi terucap, jangankan mengaku Tuhan, ketika berdoa saja masih mengingat tentang diri maka itu adalah kesombongan yang luar biasa, doa yang khusyuk itu tidak lagi mengaku “aku”, karena mengaku itu masih memakai kesadaran dalam diri, masih menggunakan pikiran-pikiran, karena yang namanya berserah diri totalitas itu bahkan tidak terpikirkan lagi, bahkan kita tidak akan ingat dan tidak akan tersampaikan kepada orang lain, tidak mungkin lagi bercampur dengan urusan dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)

